Daftar Isi
- Hutan Pinus Misterius
- Negeri Empat Rembulan
- Rahasia Kegelapan
- Mencari Jalan Keluar
- Lorong Bawah Tanah
- Danau Kepulangan
"Empat sahabat. Terjebak di Negeri Empat Rembulan. Negeri yang penuh keanehan. Negeri yang penuh misteri. Negeri yang membuat seorang manusia jadi abadi. Akankah persahabatan mereka kian erat? Atau justru retak? Empat sahabat. Di Negeri Empat Rembulan. Mencari jalan untuk pulang. Bisakah mereka kembali? Atau tersesat selamanya di negeri abadi? Ikuti petualangan mereka dalam cerita ini! Selamat menikmati".
Hutan Pinus Misterius
Minggu pagi yang cerah di kota hujan...
Dua anak lelaki bersepeda melalui hamparan kebun teh menuju rumah Lilian. Rumah Lilian memang menyendiri di antara perkebunan teh yang asri.
"Tumben kamu bisa keluar rumah, Pie?" tanya Pedro sambil menoleh pada Pietra yang bersepeda di sampingnya.
"Orang tuaku sedang ke luar kota sampai minggu depan," jawab Pietra sambil terus mengayuh di jalan menanjak.
Dari kejauhan, Lilian bisa melihat kedatangan dua anak lelaki itu. Ia juga sudah menyediakan empat gelas berisi sari jeruk.
"Lo, kok, empat gelas, Li?" tanya Pedro setiba di beranda rumah Lilian.
"Krisna sebentar lagi juga datang. Aku mengundangnya untuk ikut bersepeda dengan kita pagi ini."
"Huh! Krisna lagi! Kamu, kok, enggak bilang, kalau mau ajak Krisna? Kamu, kan, tahu, aku enggak terlalu suka sama dia!" ujar Pedro marah.
"Iya, anak itu sok dewasa!" tambah Pietra.
"Tapi Krisna, kan, baik. Apa salahnya kalau dia sok dewasa?" bela Lilian.
"Soalnya, orang dewasa itu menyebalkan! Kalu dia sok dewasa, dia jadi menyebalkan juga! Aku, sih, enggak mau jadi orang dewasa!" gerutu Pietra lagi, lalu meneguk sari jeruknya.
"Aku malah sudah enggak sabar ingin jadi orang dewasa. Boleh menyetir sendiri, pergi sendirian, punya bisnis sendiri. Wah, seru, deh!" angan Pedro.
"Orang dewasa itu sok tahu, egois, suka mengatur, suka marah-marah, suka nyuruh-nyuruh," Pietra mulai berdebat.
"Eh, sudahlah, itu Krisna sudah datang!" Lilian melerai, sambil menyambut Krisna. Pietra dan Pedro menatapnya dengan pandangan kurang senang.
Setelah Krisna minum, mereka berangkat dengan bekal seadanya. Lilian tak lupa membawa alat lukisnya. Mereka menyusuri jalanan kecil dan masuk ke halaman bungalow-bungalow keluarga Pietra yang biasa disewakan.
"Kita ke villa bambu, ya. Bungalow-nya sedang penuh disewa wisatawan," kata Pietra sambil menunjuk ke villa bambu yang berada paling ujung di jalan menanjak. Saat itu, seorang koki keluar dari dapur bungalow.
"Lo, Pietra, kok, disini? Ada yang bisa saya bantu?" tanya koki itu.
"Aku mau ke villa bambu. Entar siang kirimi kami makanan, ya!"
"Apa enggak sebaiknya Pietra dan teman-teman yang turun kemari? Soalnya kami masak untuk 90 orang. Tidak ada pelayan yang sempat mengantar makanan ke atas."
"Ya sudah, kalau enggak sempat enggak apa-apa. Tapi kami turun sore nanti," balas Pietra ketus. Ia mengambil tas ranselnya. "Yuk, kita naik."
Koki tadi hanya menggeleng melihat kelakuan tuan-nya. Sejak menjadi juru masak bagi tamu bungalow, ia selalu melihat Pietra setiap minggu datang ke villa pribadi keluarganya itu. Pietra sering datang sendiri dengan wajah muram.
"Kok, kamu ketus begitu sama orang dewasa, Pi?" tanya Lilian lembut.
"Kesal. Semua orang dewasa selalu sibuk! Masa naik beberapa meter untuk mengantar makanan empat anak SD saja, enggak sempat!" gerutu Pietra.
Teman-temannya terdian kaget melihat Pietra yang tiba-tiba marah itu. Mereka meneruskan perjalanan ke villa bambu sambil membisu.
"Wow! Pemandangannya indah sekali dari rumah ini," Krisna mengagumi pemandangan di sekitarnya.
"Kasihan, kami sudah lihat puluhan kali, kamu baru sekali. Beruntung sekali Lilian mengajakmu, Kris," ledek Pedro sambil membuka jendela.
"Ke mana rencana kita pagi ini, Pi?" tanya Lilian sambil duduk di samping Pietra. Pietra diam saja.
"Kalau kita sudah dewasa nanti, apa kita akan sempat bermain ke sini? Orang dewasa, kan, selalu sibuk," kata Pietra tiba-tiba. Matanya menatap hamparan kebun teh di kejauhan.
Lilian menoleh dan menatan wajah sendu sahabatnya itu. Lilian tahu, Pietra benci orang dewasa.
"Tidak semua orang dewasa itu sibuk, Pi. Mama papaku selalu punya waktu untuk bermain denganku."
"Orang tuaku juga sibuk, tapi aku malah senang. Aku bebas melakukan apapun," ujar Pedro, kemudian memasukkan cokelat terakhir ke mulutnya.
"Sekarang, yuk, kita naik sepeda menyusuri anak sungai di tengah kebun teh. Ada pemandangan yang indah di ujung jalan," ajak Pietra kemudia. "Anak sungai itu akan membelok ke kanan, dan jalan di sisinya putus sampai situ karena di depannya ada hutan lebat," jelas Pietra.
"Hutan? Kakekku pernah mengajakku memancing di dekat ujung jalan. Tapi.., tak ada hutan di sana!" ujar Krisna heran.
"Tahu apa kamu? Aku sering berhenti di ujung jalan dan menatap ke dalam hutan pinus itu," ucap Pietra ketus.
"Aneh, aku tak pernah melihat ada hutan pinus. Hanya rerumputan tinggi di lahan kosong," sanggah Krisna.
"Berarti kamu tidak bisa membedakan, antara pohon pinus dan rumput," Pedro tertawa mengejek.
"Kita buktikan saja," tantang Krisna.
"Oke, siapa takut!" seru Pedro dan Pietra bersamaan.
Mereka kemudian naik sepeda, berlomba mencapai ujung jalan. Setibanya disana, Pedro berteriak sambil terengah-engah.
"Lihat! Hutan pinus!"
Krisna terpana. Ia yakin tak pernah melihat hutan itu sebelumnya, saat memancing bersama kakeknya.
"Aneh, aku tak pernah melihat hutan itu. Baru beberapa bulan lalu aku ke tempat ini. Kakek pamit akan mencari ranting untuk membakar ikan," Krisna memandangi tempat ia biasa memancing dengan kakeknya. Ia masih sedih bila teringat kakeknya yang tak pernah kembali lagi, sejak pergi mencari ranting itu.
"Kakek Krisna hilang di tempat ini," ucap Lilian lirih. Krisna pernah menceritakan hal itu padanya.
"Hilang?" tanya Pedro dan Pietra bersamaan.
"Iya, sampai berminggu-minggu semua orang mencarinya, tapi tak pernah ditemukan," jelas Lilian.
"Ini sangat aneh. Kau lihat, hutan itu seperti... Seperti lukisan.."
Krisna menatap hutan berkabut di depannya itu.
"Bagaimana kalau kita mencari kakekmu di hutan itu, Krisna?" ajak Pietra bersungguh-sungguh.
Krisna menarik nafas dalam-dalam. Ia ragu, karena hutan pinus itu begitu aneh. Tetapi, ia juga ingin menemukan kakek dan anjing kesayangannya, Wawo.
"Oke, boleh juga!" ucap Krisna sambil mengangguk mantap.
"Tapi bagaimana kalau kita ikutan hilang?" balas Pedro.
"Kamu takut, ya, masuk ke hutan pinus itu?" Pietra meledek sahabatnya.
"Pedro terlihat malu-malu sambil melirik pada Lilian. "Ehm... Enggak! Aku enggak takut. Baik, aku ikut bersama kalian."
"Lilian?" Pietra menoleh pada Lilian.
"Bukannya aku takut, Pietra. Tapi... Hutan ini aneh. Lihatlah! Jalanan ini, mengapa putus sampai disini? Mengapa tidak diteruskan di sepanjang sungai di sisi hutan?" ungkap Lilian.
"Lilian, aku selalu melihat hutan itu. Kamu tidak usah takut. Soal jalan itu, mungkin saja pemerintah kehabisan dana untuk meneruskannya," jawab Pietra.
Lilian berfikir sejenak, dia akhirnya setuju untuk ikut. Mereka menyembunyikan sepeda di semak-semak. Lilian kemudian mengencerkan cat air merah dalam gelas plastik, lalu menyerahkannya pada Krisna.
Krisna memberi tanda lingkaran pada pohon-pohon yang mereka lalui. Agar mereka tidak tersesat saat pulang nanti. Setelah berjalan cukup jauh, mereka mendengar gemercik air.
"Sepertinya ada sungai di sekitar sini," kata Pietra.
Mereka terus berjalan sampai tidak di tepi sungai. Di sisi kanan sungai itu ada air terjun kecil. Mereka beristirahat di tepi sungai yang di tumbuhi rumput pendek. Hampir tak ada ranting maupun daun kering di atas rerumputan itu.
Mereka mengeluarkan bekal makan siang, lalu menyantapnya lahap. Lilian mengunyah sambil melihat ke sekeliling,
"Tempat ini aneh ya! Seperti ada yang membersihkannya tiap hari. Tak ada ranting dan daun gugur di tempat kita duduk ini!"
"Memang aneh! Mengapa tidak ada orang yang tahu, ada tempat seindah ini di tengah hutan pinus ini," gumam Krisna curiga.
"Mungkin banyak orang yang tahu. Tapi mereka merahasiakannya agar hutan ini tetap sunyi dan asli," bantah Pietra.
Pedro makan dengan lahap dan tidak memberi komentar. Beberapa butir nasi jatuh di rumput di sekitarnya.
Usai makan siang, mereka meneruskan perjalanan. Krisna tetap memberi tanda di pohon-pohon. Karena kehabisan warna merah, kini ia menggunakan warna kuning. Setelah satu jam perjalanan, lagi-lagi mereka mendengar gemercik air.
"Jangan-jangan kita sudah tiba di tepi hutan, di dekat kelokan sungai," duga Lilian.
Krisna berhenti sejenak, kemudian berlari ke arah kanan dengan cepat. Pietra, Lilian, dan Pedro segera mengikuti Krisna. Mereka terpana menatap air terjun kecil di sisi kanan sungai. Dan semakin terkejut ketika melihat sisa-sisa nasi Pedro di atas rumput pendek.
"Ini air terjun yang sama," gumam Krisna.
"Kita hanya berputar," sambung Pietra.
"Daripada tersesat, kita pulang saja yuk!" pinta Pedro lelah.
Pietra akhirnya memutuskan untuk pulang, mengikuti tanda yang di tinggalkan Krisna. Namun anehnya, mereka tidak menemukan satu pohon pun yang ada tandanya.
"Krisna! Kamu pasti lupa memberi tanda!" teriak Pedro marah.
"Kalau aku lupa, pasti catnya masih utuh, Pedro!" seru Krisna tak terima.
"Kalau kita tersesat, ini semua salahmu, Krisna," pekik Pedro jengkel.
"Cukup, Pedro. Aku yang ajak kalian ke sini! Jadi kalau kita tersesat, ini salahku!" lerai Pietra.
Pedro melempar tas bekalnya, kemudian duduk mengahadap sungai.
"Aneh! Aku melihat Krisna membuat tanda di setiap lima pohon yang kita lewati. Duh, bagaimana ini?" Mata Lilian berkaca-kaca bingung.
"Kita tadi berangkat menuju arah terbit matahari, berarti kita pulang mengikuti arah matahari tenggelam!" ujar Krisna yakin, lalu berlari ke sungai.
"Krisna, mau kemana?" teriak Lilian panik.
"Aku mau melihat matahari! Aku harus naik ke tempat yang tinggi. Kurasa tebing di atas air terjun itu tempat yang paling tepat," seru Krisna.
"Bahaya, Kris!" larang Pietra. Namun Krisna sudah melepas sandal dan kaosnya, lalu terjun ke sungai. Dengan lincah Krisna melompat di atas bebatuan, menuju ke air terjun. Ia lalu mendaki tebing dengan sudah payah. Teman-temannya menatap cemas dari seberang sungai.
"Bagaimana, Kris?" teriak Pietra, setelah melihat Krisna berhasil naik.
Mulut Krisna tampak menganga. Ia mengadah melihat ke langit dengan pandangan bingung. Krisna lalu menatap teman-teman nya dengan sedih.
"Kris, jawab dong!" seru Lilian panik.
Krisna tidak menjawab.
"Ini tidak mungkin..." desah Krisna putus asa.
sebenarnya aku pingin ngelanjutin nulis ulang cerita ini, tapi yaa karena faktor males, jadi nya gak ngelanjutin lagi deh. nanti kapan2 kalo inget n bukunya gak ilang, pasti aku lanjutin. thankss :)
sebenarnya aku pingin ngelanjutin nulis ulang cerita ini, tapi yaa karena faktor males, jadi nya gak ngelanjutin lagi deh. nanti kapan2 kalo inget n bukunya gak ilang, pasti aku lanjutin. thankss :)

Hi metta, ini ada lanjutannya kah ?
ReplyDelete